Bubur Laba dengan biji-bijian, kacang-kacangan, jujube, dan kacang

Bubur Laba: Bahan, Sejarah, dan Tradisi Festival

Bubur Laba dengan biji-bijian, kacang-kacangan, jujube, dan kacang
Kenali bahan bubur Laba, versi daerah yang manis dan gurih, tradisi Buddhis, catatan sejarah, serta kebiasaan berbagi hidangan festival ini.

Daftar Isi

Jawaban Singkat: Apa Itu Bubur Laba?

Bubur Laba (腊八粥, làbā zhōu), yang juga disebut Laba congee, adalah bubur dari campuran biji-bijian yang berkaitan dengan Festival Laba (腊八节, Làbā Jié).

  • Bahan: Serealia dan polong-polongan dapat dipadukan dengan aneka kacang, biji, dan buah kering.
  • Waktu: Tanggal festival tradisionalnya adalah hari kedelapan bulan lunar kedua belas.
  • Berbagi: Keluarga dapat membagikannya kepada kerabat atau tetangga, sementara kuil mengadakan persembahan dan pembagian untuk umum.

Tidak ada satu resep nasional yang baku. Ada versi manis dan gurih; jumlah bahan tertentu maupun keikutsertaan dalam upacara keagamaan bukan syarat yang berlaku untuk semua bubur Laba.

Infografik bubur Laba tentang bahan, sejarah, dan tradisi berbagi
Bahan, cita rasa daerah, dan tradisi berbagi semangkuk bubur Laba.

Semangkuk bubur musim dingin berisi beras, polong-polongan, dan buah kering dapat berbeda dari satu keluarga ke keluarga lain. Daya tariknya terletak pada bahan-bahannya, sedangkan waktu perayaan dan kebiasaan berbagi membentuk makna budayanya. Panduan umum Festival Laba membahas perayaannya secara lebih luas.

Bahan Apa Saja yang Digunakan dalam Bubur Laba?

Beras dan beras ketan lazim menjadi bahan dasar, sementara polong-polongan dan bahan lain memberi tekstur serta rasa yang berbeda. Kurma merah sebenarnya adalah jujube, bukan buah dari pohon kurma; longan kering juga merupakan tambahan manis yang umum. Nama-nama ini membantu mengenali bahan tanpa memberi makna simbolis pada setiap suapan.[1]

Kelompok bahanContoh umumPerannya dalam bubur
Biji-bijianBeras, beras ketan, milletDasar bubur; beras ketan memberi tekstur lebih lengket
Polong-polonganKacang adzuki, kacang hijau, dan polong-polongan lain yang dipilih secara setempatMemberi tekstur lembut dan membuat bubur lebih berisi; setiap jenis memerlukan persiapan yang berbeda
Kacang dan bijiKacang tanah, kenari, kastanye, biji lotusMemberi variasi tekstur dan rasa; tidak ada yang wajib
Buah keringJujube (kurma merah), longan kering, kismisMemberi rasa manis dan aroma pada versi manis
Bahan tambahan lainGula, sayuran, tahu, atau dagingBahan yang dipilih sesuai resep manis atau gurih tertentu

Tabel ini menunjukkan pilihan bahan, bukan daftar yang harus digunakan seluruhnya dalam satu resep. Pada 2021, Kuil Lingyin di Hangzhou mendokumentasikan dua belas bahan, termasuk beras, polong-polongan, kacang tanah, biji lotus, buah, dan sedikit bunga osmanthus. Itu adalah racikan satu kuil tertentu, bukan standar nasional.[2]

Bubur delapan harta (八宝粥, bābǎo zhōu) adalah sebutan untuk bubur dengan beragam bahan yang komposisinya sering memiliki banyak kesamaan dengan bubur Laba. Kedua sebutan itu tidak berarti resepnya selalu sama. Untuk semangkuk bubur tertentu, isi sebenarnya lebih penting daripada sebutan bahasa Inggrisnya, terutama jika Anda menghindari kacang tanah, jenis kacang lain, atau bahan tertentu.

Bubur Laba Manis dan Gurih: Variasi Daerah

Versi manis sering memadukan beras dan polong-polongan dengan buah kering, kadang ditambah gula. Versi gurih dapat berisi sayuran, olahan kedelai, atau daging. Rasa manis tidak khas hanya untuk satu provinsi, dan rasa gurih juga tidak otomatis berarti bubur tersebut mengandung daging.

Jiangsu memberi contoh yang baik tentang variasi di dalam satu provinsi. Laporan setempat menyebut bubur manis di Nanjing dan Suzhou, serta tradisi gurih di Wuxi dan Changzhou dengan kombinasi seperti sayuran hijau, polong-polongan, olahan tahu, dan talas. Contoh ini menunjukkan ragam praktik setempat, bukan aturan untuk setiap keluarga.[3]

Ada pula versi yang menggunakan daging. Salah satu contoh terdokumentasi dari Yingshan, Hubei, memadukan beras ketan dan kacang merah dengan irisan daging babi.[4] Karena itu, pembagian sederhana “manis di utara, gurih di selatan” tidak memadai. Saat seseorang menjelaskan bubur Laba keluarganya, lokasi, kebiasaan keluarga, dan pilihan bahan memberi gambaran yang lebih jelas daripada generalisasi regional.

Bagaimana Bubur Laba Disiapkan?

Cara menyiapkannya bergantung pada bahan yang dipilih. Secara umum, serealia dan bahan lain dimasak bersama hingga menjadi bubur yang lunak, dengan waktu masak disesuaikan untuk tiap bahan. Sebagai gambaran umum:

  1. Pilih dan bersihkan: Pilih bahan sesuai versi yang akan dibuat, lalu pilah dan bilas sesuai kebutuhan.
  2. Siapkan bahan yang lebih keras: Rendam atau masak terlebih dahulu polong-polongan jika resep membutuhkannya. Sesuaikan langkah ini dengan tiap bahan karena jenis polong-polongan dan biji-bijian melunak dengan kecepatan berbeda.
  3. Masak hingga lunak: Rebus perlahan serealia dan polong-polongan yang sudah disiapkan dalam air, lalu tambahkan buah atau bahan lain pada tahap yang ditentukan resep. Serealia harus melunak dan membantu mengentalkan cairan.
  4. Sesuaikan rasa akhir: Atur tingkat kemanisan atau bumbu gurih serta kekentalan sesuai versi yang dibuat. Sebagian bubur masih menyisakan potongan bahan yang empuk dan terpisah, sementara yang lain dimasak hingga lebih kental.

Resep rumahan dari Lingyin memberi petunjuk khusus untuk perendaman dan pemasakan.[5] Untuk memasak di rumah, gunakan resep lengkap yang sesuai dengan bahan dan peralatan Anda; ringkasan ini tidak menetapkan takaran atau waktu masak yang berlaku untuk semua versi.

Sejarah Bubur Laba: Tradisi Buddhis dan Catatan Tertulis

Sejarah bubur Laba terdiri atas beberapa lapisan. Perayaan akhir tahun yang lebih tua menjadi bagian dari latar festival, tetapi tidak membuktikan bahwa resep bubur dari campuran serealia masa kini tetap sama sejak zaman kuno.[4]

Dalam tradisi Buddhis Tiongkok, Laba memperingati pencerahan Buddha Shakyamuni. Dalam kisah terkait, seorang perempuan mempersembahkan hidangan berbahan nasi dan susu sebelum pencerahan beliau. Penjelasan kuil masa kini mengaitkan persembahan bubur dengan ungkapan syukur kepada Buddha. Kisah keagamaan ini menjelaskan kaitannya dengan praktik ibadah; hidangan nasi dan susu dalam cerita itu tidak boleh dianggap sebagai resep yang sama dengan setiap bubur modern berisi serealia, polong-polongan, dan buah.[2]

Catatan tertulis memberi dasar yang lebih kuat untuk menjelaskan praktik kuliner yang benar-benar tercatat. Dongjing Meng Hua Lu, karya zaman Song yang menggambarkan kehidupan di ibu kota Song Utara, mencatat bahwa kuil-kuil besar membagikan bubur pada hari kedelapan bulan kedua belas. Makanan itu disebut Qibao Wuwei Zhou (七宝五味粥, qībǎo wǔwèi zhōu), yang sering diterjemahkan sebagai “bubur tujuh harta, lima rasa”. Bagian yang sama juga menyebut rumah tangga memasak bubur dengan buah dan berbagai bahan lain.[6]

Catatan dari masa yang lebih kemudian menggambarkan perubahan bahan dan cara memasak di kuil, rumah tangga, dan istana kekaisaran.[4] Ketiga lingkungan ini berjalan berdampingan; bukan berarti ada tiga resep baku yang berlaku di mana-mana. Kisah bahwa Zhu Yuanzhang bertahan hidup pada masa sulit berkat bubur campuran berasal dari folklor yang lebih belakangan, bukan bukti bahwa ia menciptakan makanan yang sudah terdokumentasi sebelum masa hidupnya. Bukti yang ada mendukung adanya tradisi yang mapan sejak zaman Song, bukan satu penemu yang dapat dipastikan.

Kapan Bubur Laba Dimakan?

Bubur ini terutama dikaitkan dengan hari kedelapan bulan lunar kedua belas. Pada 2027, Laba jatuh pada Jumat, 15 Januari.[7]

Kaitan dengan Laba tidak berarti bubur serupa tidak boleh dimakan pada hari lain. Tidak semua keluarga juga harus memasaknya sebelum fajar. Pembagian untuk masyarakat dapat dimulai sebelum hari festival, dan tanggalnya bergantung pada penyelenggara. Kalender memberi tahu kapan Laba jatuh, sedangkan pengumuman terbaru menjelaskan kapan dan di mana pembagian tertentu berlangsung.

Berbagi Bubur Laba di Rumah dan Kuil

Di rumah, satu panci bubur dapat menjadi hidangan keluarga sekaligus pemberian untuk kerabat atau tetangga. Catatan sejarah menyebut orang saling membagikan bubur.[4] Membawa satu porsi ke rumah tetangga dapat menjadi ungkapan perhatian sehari-hari dan hubungan bertetangga yang baik; hal itu tidak harus disertai ritual keagamaan di rumah. Kebiasaan berbagi seperti ini dikenal, tetapi tidak dilakukan oleh setiap keluarga.

Kegiatan di kuil memiliki dimensi keagamaan sekaligus publik. Mempersembahkan mangkuk pertama kepada Buddha dan menyiapkan makanan untuk dibagikan kepada masyarakat dapat menjadi bagian dari satu program yang sama. Porsi untuk umum tidak seharusnya digambarkan sekadar sebagai sisa setelah ritual.

Pengumuman Kuil Lingyin pada Januari 2021 memberi contoh konkret. Kiriman pertama dibawa dengan kendaraan layanan pos ke tujuh belas komunitas di Hangzhou dan beberapa lembaga kesejahteraan. Program berlanjut selama beberapa hari menjelang Laba, dan pengumuman tahun itu secara tegas menyebut tidak ada pembagian di dalam kuil.[8] Catatan ini menunjukkan cara pembagian yang berlaku pada saat itu, bukan aturan akses yang bersifat permanen.

Untuk acara mendatang, periksa siapa yang dapat menerima bubur, apakah perlu mendaftar, dan di mana tempat pengambilannya. Pembagian makanan kepada masyarakat dan partisipasi dalam ibadah adalah dua kegiatan berbeda; tanyakan masing-masing secara terpisah, jangan menganggap menerima semangkuk bubur berarti harus mengikuti upacara.

FAQ tentang Bubur Laba

Apakah Bubur Laba Harus Mengandung Tepat Delapan Bahan?

Tidak. Angka “delapan” dalam Laba merujuk pada hari dalam bulan lunar, bukan jumlah bahan wajib yang berlaku umum. Resep tertentu dapat menggunakan delapan bahan atau jumlah lain. Racikan Lingyin yang terdokumentasi, misalnya, menggunakan dua belas bahan; versi daerah dan keluarga berbeda-beda.

Apakah Bubur Laba Sama dengan Bubur Delapan Harta?

Kedua sebutan ini sering merujuk pada bubur dengan komposisi yang serupa, terutama versi manis dari campuran serealia. Bubur Laba menekankan kaitannya dengan festival, sedangkan bubur delapan harta juga merupakan nama makanan sehari-hari. Nama saja tidak menjamin bahan, proporsi, atau rasa yang sama pada setiap mangkuk.

Apakah Bubur Laba Selalu Vegetarian?

Tidak. Banyak versi berbahan serealia, polong-polongan, dan buah menggunakan bahan nabati, termasuk racikan Lingyin yang terdokumentasi, tetapi beberapa versi gurih daerah memakai daging. Bubur gurih juga dapat dibuat vegetarian. Jika pola makan Anda menghindari bahan tertentu, tanyakan komposisi sebenarnya kepada orang yang memasak atau penyelenggara.

Apakah Bubur Laba Bisa Dimakan di Luar Festival?

Bisa. Bubur sejenis dapat dimasak dan dimakan sepanjang tahun. Pada Laba, bubur ini memperoleh makna khusus karena waktunya dalam kalender dan kebiasaan berbagi di masyarakat; memakannya pada hari lain tidak menghapus kenangan keluarga atau menghalangi orang untuk tetap berbagi.

Sumber

[1] Shanghai Municipal Government. Laba Porridge Sweetens Chinese New Year Festivities

[2] Lingyin Temple. The First Bowl of Laba Porridge in the Gengzi Year

[3] Jiangsu Broadcasting Corporation, Our Jiangsu. Sweet and Savory Laba Porridge in Jiangsu

[4] Xiao Fang, China Intangible Cultural Heritage Network. The La Observance and Laba Porridge Heralding the New Year

[5] Lingyin Temple. Preparing Lingyin Laba Porridge at Home

[6] Meng Yuanlao. Dongjing Meng Hua Lu, Volume Ten

[7] Hong Kong Observatory. Gregorian–Lunar Calendar Conversion Table of 2027

[8] Lingyin Temple. Laba Porridge Cooking Begins, with the First Batch Distributed for Public Benefit