Jawaban Singkat: Apa Itu Festival Laba 2027?
Festival Laba 2027 jatuh pada Jumat, 15 Januari 2027. Festival ini dirayakan pada hari ke-8 bulan lunar ke-12.
Dalam bahasa Tionghoa, festival ini disebut Laba Jie (腊八节). “La” merujuk pada bulan lunar terakhir dalam tahun lama, sedangkan “ba” berarti delapan. Dalam bahasa Inggris, festival ini sering disebut Laba Festival atau Laba Rice Porridge Festival.
Makanan utamanya adalah bubur Laba, yang juga disebut Laba congee. Bubur ini dibuat dari campuran biji-bijian, kacang-kacangan, aneka kacang seperti kenari, buah kering, dan bahan lainnya. Adat lain mencakup membuat bawang putih Laba, penghormatan kepada leluhur, berdoa untuk tahun yang akan datang, dan pembagian bubur di kuil.
Makna utama Laba adalah berkah akhir tahun, nutrisi musim dingin, mengenang pencerahan Buddha, serta dimulainya persiapan Tahun Baru Imlek. Sebuah ungkapan populer menjelaskan posisinya dengan jelas: “Setelah Laba, datanglah Tahun Baru.”
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Tanggal 2027 | 15 Januari 2027 |
| Hari | Jumat |
| Nama Tionghoa | Laba Jie / 腊八节 |
| Juga Disebut | Festival Bubur Laba |
| Tanggal Lunar | Hari ke-8 bulan lunar kedua belas |
| Makanan Utama | Bubur Laba / Laba congee |
| Adat Lain | Bawang putih Laba, penghormatan leluhur, doa, bubur kuil |
| Makna Utama | Berkah akhir tahun, kehangatan musim dingin, persiapan Tahun Baru |
Apa Itu Festival Laba?
Festival Laba bukan sekadar hari untuk makan bubur. Festival ini merupakan salah satu tanda paling awal bahwa Tahun Baru Imlek sudah mendekat.
Posisinya istimewa. Laba jatuh pada hari ke-8 bulan lunar ke-12, yaitu bulan terakhir dalam tahun lunar lama. Tahun Baru Imlek belum tiba, tetapi sudah dekat. Dalam banyak tahun, Laba berlangsung kira-kira tiga minggu sebelum Malam Tahun Baru.
Dalam kehidupan pedesaan tradisional, inilah saat pekerjaan ladang mulai berkurang, persediaan biji-bijian dikeluarkan, dan rumah tangga mulai mengalihkan perhatian dari pekerjaan sehari-hari ke persiapan Tahun Baru. Karena itu orang berkata, “Setelah Laba, datanglah Tahun Baru.” Ungkapan ini bukan berarti Festival Musim Semi dimulai pada Laba. Maksudnya, suasana mulai berubah.
Bubur Laba mencerminkan perubahan suasana ini. Berbagai bahan yang semula terpisah dimasak bersama dalam satu panci hangat. Biji-bijian, kacang-kacangan, kacang seperti kenari, dan buah kering perlahan menyatu menjadi satu cita rasa. Dalam arti ini, Laba menjadi momen berkumpul sebelum reuni besar saat Tahun Baru.
Bagian paling menyentuh dari Laba bukanlah seberapa rumit buburnya. Di bagian paling dingin dari tahun lama, butiran-butiran yang terpencar dimasak perlahan menjadi satu panci, dan hari-hari biasa mulai bergerak menuju persiapan Tahun Baru.
Kapan Festival Laba? Aturan Tanggal dan Tanggal Mendatang
Festival Laba selalu dirayakan pada hari ke-8 bulan lunar ke-12. Karena mengikuti kalender lunar Tiongkok, tanggal Gregoriannya berubah setiap tahun.
Festival ini biasanya jatuh pada bulan Januari, meskipun pada beberapa tahun dapat berlangsung pada akhir Desember. Laba bukan Hari Tahun Baru Imlek, tetapi biasanya berlangsung tidak lama sebelumnya dan menandai dimulainya masa persiapan Tahun Baru dalam kehidupan rakyat.
Festival Laba bukan hari libur nasional di Tiongkok Daratan. Orang biasanya tetap bekerja atau belajar seperti biasa, meskipun keluarga, kuil, sekolah, komunitas, dan bisnis masih dapat memperingatinya.
| Tahun Gregorian | Tanggal Festival Laba | Hari | Tanggal Lunar |
|---|---|---|---|
| 2026 | 26 Januari 2026 | Senin | Tahun Yi Si, bulan lunar ke-12, hari ke-8 |
| 2027 | 15 Januari 2027 | Jumat | Tahun Bing Wu, bulan lunar ke-12, hari ke-8 |
| 2028 | 4 Januari 2028 | Selasa | Tahun Ding Wei, bulan lunar ke-12, hari ke-8 |
| 2029 | 22 Januari 2029 | Senin | Tahun Wu Shen, bulan lunar ke-12, hari ke-8 |
| 2030 | 11 Januari 2030 | Jumat | Tahun Ji You, bulan lunar ke-12, hari ke-8 |
Catatan tanggal: Laba tidak memiliki tanggal tetap dalam kalender Gregorian dan bukan Hari Tahun Baru Imlek. Karena Laba sering jatuh pada Januari sebelum Tahun Baru Imlek, tahun lunarnya masih dapat termasuk tahun shio sebelumnya, bukan tahun shio baru yang dimulai saat Festival Musim Semi. Contohnya, Laba pada 15 Januari 2027 masih termasuk tahun Bing Wu, yaitu tahun lunar Kuda, bukan tahun Kambing Api yang dimulai setelah Tahun Baru Imlek 2027.
Mengapa Laba Menandai Awal Persiapan Tahun Baru Imlek
Laba adalah salah satu tanda awal paling jelas dari musim Tahun Baru Imlek. Ungkapan rakyat “Setelah Laba, datanglah Tahun Baru” menjelaskan hal ini lebih baik daripada penjelasan formal apa pun.
Ungkapan tersebut bukan berarti Laba sama dengan Tahun Baru Imlek. Maksudnya, ritme rumah tangga berubah setelah Laba. Orang mulai bersiap.
Dalam kehidupan masa lalu, Laba tiba pada waktu yang sangat praktis. Cuaca sedang dingin, persediaan makanan menjadi penting, dan keluarga harus merencanakan festival terpenting sepanjang tahun. Setelah Laba, langkah menuju Tahun Baru Imlek semakin rapat: mengasinkan bawang putih, menyiapkan makanan, membersihkan rumah, membeli kebutuhan Tahun Baru, menata persembahan, dan menunggu makan malam reuni.
| Waktu | Makna dalam Persiapan Tahun Baru |
|---|---|
| Festival Laba | Suasana Tahun Baru mulai terasa |
| Setelah Laba | Keluarga mulai menyiapkan makanan dan persediaan |
| Tahun Baru Kecil | Ritual Dewa Dapur dan pembersihan lebih menyeluruh |
| Menjelang Malam Tahun Baru | Bersih-bersih, berbelanja, memasang kuplet, menyiapkan makanan kukus |
| Malam Tahun Baru Imlek | Makan malam reuni dan persiapan terakhir |
| Festival Lampion | Siklus Tahun Baru Imlek berakhir |
Bawang putih Laba menunjukkan logika waktu ini dengan jelas. Di Tiongkok utara, bawang putih direndam dalam cuka pada hari Laba, tetapi bukan untuk langsung dimakan. Bawang itu dibiarkan hingga Tahun Baru Imlek, lalu disajikan bersama pangsit.
Tahun Baru Imlek tidak datang sekaligus. Ia semakin dekat sejak Laba: mula-mula sepanci bubur, lalu sebotol bawang putih, kemudian bersih-bersih, membeli kebutuhan Tahun Baru, memasang kuplet, dan akhirnya makan malam reuni. Laba adalah penanda pertama di jalan itu.
Bubur Laba: Inti Festival
Bubur Laba adalah inti Festival Laba. Bubur ini juga disebut Laba congee atau, dalam beberapa penjelasan bahasa Inggris, eight-treasure congee. Namun, bubur Laba tidak boleh dipahami sebagai resep yang baku.
Tidak ada satu versi bubur Laba yang paling benar. Setiap daerah dan keluarga menggunakan bahan yang berbeda. Sebagian keluarga memakai delapan bahan karena angka delapan sesuai dengan nama Laba dan dianggap membawa nuansa keberuntungan. Yang lain memakai lebih banyak. Intinya bukan ketepatan hitungan, melainkan kebersamaan bahan-bahan itu.
Bahan umum mencakup biji-bijian, kacang-kacangan, aneka kacang, buah kering, biji-bijian kecil, dan bahan simpanan lainnya. Semuanya dimasak perlahan sampai menjadi kental dan hangat, dengan rasa manis atau sedikit gurih sesuai selera setempat.
| Jenis Bahan | Contoh | Makna |
|---|---|---|
| Biji-bijian | Beras, beras ketan, millet | Makanan pokok, hasil panen |
| Kacang-kacangan | Kacang merah, kacang hijau, kacang hitam | Kenyang dan bergizi |
| Kacang / Buah Bercangkang | Kacang tanah, kenari, kastanye | Kekuatan dan energi musim dingin |
| Buah Kering | Kurma merah, lengkeng, kismis, goji berry | Manis dan berkah |
| Biji-bijian / Teratai | Biji teratai, wijen | Tekstur dan harapan baik |
Dalam praktik lama, bubur Laba dapat dipersembahkan kepada leluhur, dipersembahkan kepada Buddha, dibagikan kepada keluarga, diberikan kepada tetangga, atau dibagikan oleh kuil. Satu panci dapat membawa rasa syukur atas panen tahun lama, doa untuk tahun mendatang, kehangatan musim dingin, belas kasih Buddhis, dan kehangatan keluarga.
Bubur Laba bukan makanan mewah. Ini adalah makanan untuk berkumpul. Beras, kacang-kacangan, buah, dan aneka kacang memiliki rasa masing-masing, tetapi setelah dimasak perlahan semuanya menjadi satu panci. Yang dimakan bukan satu bahan, melainkan kehangatan hasil panen tahun lama yang dikumpulkan bersama.
Karena itu, bubur Laba tidak seharusnya disederhanakan menjadi “oatmeal Tiongkok.” Bubur ini bukan sekadar sarapan. Ia adalah semangkuk makanan musiman, persembahan akhir tahun, kenangan keluarga, dan rasa hangat pertama dari Tahun Baru yang akan datang.
Asal-Usul Bubur Laba: Persembahan La, Buddhisme, dan Makanan Musim Dingin Rakyat
Festival Laba tidak berasal dari satu sumber saja. Seperti buburnya, festival ini terbentuk dari beberapa lapisan yang “dimasak” bersama: persembahan akhir tahun kuno, ingatan akan pencerahan Buddha, dan kebiasaan makanan musim dingin rakyat.
Persembahan La Kuno dan Persembahan Akhir Tahun
Kata la berkaitan erat dengan kebiasaan persembahan akhir tahun pada masa lampau. Di Tiongkok kuno, bulan lunar terakhir merupakan waktu untuk memberi persembahan kepada leluhur, langit, bumi, dan roh pelindung. Orang berterima kasih atas panen tahun itu dan berdoa untuk kedamaian, kesehatan, serta keberuntungan pada tahun yang akan datang.
Inilah dasar yang lebih tua dari Laba. Sebelum festival ini sangat identik dengan bubur atau praktik kuil Buddha, Laba merupakan bagian dari ritme penutupan tahun. Rumah tangga dan masyarakat seolah membuat perhitungan terakhir dengan leluhur, tanah, hasil bumi, dan nasib.
Pencerahan Buddha dan Bubur Kuil
Setelah Buddhisme menyebar di Tiongkok, Laba memperoleh makna penting lainnya: hari pencerahan Buddha Shakyamuni.
Menurut tradisi Buddhis, sebelum mencapai pencerahan, Buddha menjalani tapa keras hingga tubuhnya menjadi sangat lemah. Seorang perempuan muda memberinya bubur susu atau makanan biji-bijian bergizi. Setelah memulihkan kekuatannya, ia duduk di bawah pohon Bodhi dan mencapai pencerahan. Dalam praktik Buddhis Tiongkok, hari ke-8 bulan lunar ke-12 kemudian dikaitkan dengan peristiwa ini.
Karena itu, banyak kuil memasak bubur pada hari Laba. Bubur dapat dipersembahkan kepada Buddha dan dibagikan kepada biksu, pengunjung, umat, atau masyarakat umum. Lapisan ini menambahkan makna pencerahan, belas kasih, berbagi, dan berkah bersama.
Makanan Musim Dingin Rakyat dan Kehangatan Keluarga
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, bubur Laba juga merupakan makanan musim dingin yang praktis. Pada masa paling dingin dalam setahun, keluarga memanfaatkan persediaan biji-bijian, kacang-kacangan, buah kering, kacang seperti kenari, dan biji untuk membuat hidangan hangat yang bergizi.
Maknanya bukan hanya simbolis. Bubur menghangatkan tubuh, memanfaatkan persediaan hasil panen, dan mengumpulkan keluarga di sekitar tungku.
| Tradisi Asal | Makna yang Ditambahkan |
|---|---|
| Persembahan La Kuno | Leluhur, panen, doa akhir tahun |
| Pencerahan Buddha | Buddha, Bodhi, bubur kuil, belas kasih |
| Makanan Musim Dingin Rakyat | Kehangatan, gizi, persediaan biji-bijian |
| Pendahuluan Tahun Baru | Awal persiapan Festival Musim Semi |
Laba sekaligus berada di altar, kuil, dapur, dan jalan menuju Tahun Baru.
Bawang Putih Laba: Rasa Menunggu dari Tiongkok Utara
Bawang putih Laba adalah salah satu adat Laba yang paling khas di Tiongkok utara, terutama di Beijing dan beberapa wilayah Tiongkok Utara.
Yang penting dipahami adalah waktunya: bawang putih Laba bukan terutama dimakan pada hari Laba. Prosesnya justru dimulai pada hari Laba.
Caranya sederhana. Siung bawang putih dikupas, dimasukkan ke dalam cuka, ditutup rapat, lalu diletakkan di tempat sejuk. Selama kira-kira dua puluh hari berikutnya, bawang putih perlahan berubah menjadi hijau giok yang cerah. Cuka menyerap aroma tajam bawang putih, sedangkan bawangnya menjadi renyah, asam, dan sedikit pedas.
Stoples ini disiapkan untuk Tahun Baru Imlek. Saat pangsit disajikan pada Malam Tahun Baru atau hari-hari pertama Tahun Baru, bawang putih Laba muncul di meja. Beberapa siung hijau dan sedikit cuka menjadi pendamping yang sangat cocok untuk pangsit.
| Tahap | Makna |
|---|---|
| Kupas bawang putih pada hari Laba | Mulai persiapan Tahun Baru |
| Rendam dalam cuka | Waktu perlahan mengubah rasanya |
| Bawang putih berubah hijau | Perubahan musim dingin |
| Makan bersama pangsit | Menghubungkan Laba dengan Tahun Baru Imlek |
Ada pula permainan bunyi dalam tradisi rakyat. Bawang putih disebut suan, dan suan juga dapat berarti menghitung atau menyelesaikan perhitungan. Menjelang akhir tahun, keluarga dan bisnis sering memikirkan pembukuan, utang, dan saldo. Hal ini membuat bawang putih Laba terasa semakin terkait dengan penyelesaian urusan akhir tahun.
Keindahan bawang putih Laba bukan terletak pada memakannya pada hari Laba, melainkan pada menunggu. Bawang putih masuk ke dalam cuka saat Laba dan keluar ketika Tahun Baru Imlek tiba dalam keadaan hijau, renyah, tajam, dan penuh cita rasa Tahun Baru. Stoples ini mengingatkan pada satu hal sederhana: beberapa hal baik memang tidak bisa dipercepat.
Adat Festival Laba Lain dan Variasi Daerah
Adat Laba berbeda menurut daerah, agama, dan latar belakang keluarga. Bubur Laba adalah kebiasaan yang paling terkenal, tetapi bukan satu-satunya.
| Tradisi | Daerah / Konteks | Makna |
|---|---|---|
| Bubur Kuil | Kuil Buddhis | Berkah, berbagi, belas kasih |
| Bawang Putih Laba | Tiongkok Utara | Persiapan Tahun Baru, pendamping pangsit |
| Penghormatan kepada Leluhur | Tradisi keluarga / setempat | Mengenang akhir tahun |
| Tahu / Mi Laba | Adat makanan daerah | Cita rasa musim dingin setempat |
| Bubur Kemasan | Kehidupan perkotaan | Kenangan festival yang disederhanakan |
Pembagian bubur di kuil adalah salah satu adat publik yang paling terlihat. Beberapa kuil mulai memasak sejak pagi dan membagikan bubur kepada umat, pengunjung, serta warga sekitar. Bagi banyak orang, menerima semangkuk bubur kuil sekaligus terasa sebagai berkah dan pengalaman kebersamaan.
Penghormatan kepada leluhur dapat dilakukan oleh sebagian keluarga atau di beberapa daerah. Karena Laba berada pada bulan lunar terakhir, kebiasaan ini dapat dipahami sebagai bagian dari siklus akhir tahun untuk mengenang, bersyukur, dan berdoa.
Ada pula makanan daerah. Beberapa tempat memiliki tahu Laba, mi Laba, nasi Laba, atau makanan musim dingin setempat lainnya. Semua ini tidak seharusnya dianggap sebagai adat nasional, tetapi menunjukkan bagaimana Laba menyesuaikan diri dengan bahan dan kebiasaan lokal.
Di kota-kota modern, banyak orang tidak lagi memasak bubur Laba tradisional sepenuhnya dari awal. Mereka mungkin membeli bubur delapan harta, biji-bijian kemasan, campuran bubur Laba siap masak, atau sekadar mengunggah foto semangkuk bubur dengan ungkapan “Setelah Laba, datanglah Tahun Baru.” Ritualnya lebih ringan, tetapi ingatannya tetap ada.
Apakah Festival Laba Festival Buddhis atau Festival Rakyat?
Festival Laba bersifat Buddhis sekaligus rakyat. Festival ini tidak seharusnya dipersempit menjadi hanya satu identitas.
| Lapisan | Fokus Utama |
|---|---|
| Laba Buddhis | Pencerahan Buddha, bubur kuil, belas kasih |
| Laba Rakyat | Penghormatan leluhur, doa panen, makanan musim dingin |
| Laba Tahun Baru | Awal persiapan Festival Musim Semi |
| Laba Keluarga | Berbagi bubur, kehangatan, ritme rumah tangga |
Lapisan Buddhis menghubungkan Laba dengan pencerahan Buddha Shakyamuni, persembahan kuil, pembacaan doa, dan pembagian bubur. Karena itu banyak kuil Buddha memperingati hari ini dengan sungguh-sungguh.
Lapisan rakyat menghubungkan Laba dengan persembahan akhir tahun, makanan musim dingin, kehangatan rumah tangga, dan persiapan Tahun Baru. Karena itu banyak orang yang bukan penganut Buddha tetap makan bubur Laba atau membuat bawang putih Laba.
Laba menarik karena festival ini tidak hanya milik kuil dan juga tidak hanya milik dapur. Di kuil, sepanci bubur adalah amal. Di rumah, sepanci bubur adalah kehidupan sehari-hari. Pada Laba, keduanya bertemu.
Bagaimana Festival Laba Dirayakan Saat Ini
Saat ini Festival Laba masih diperingati, tetapi biasanya dengan cara yang lebih tenang daripada Tahun Baru Imlek. Laba bukan hari libur besar, tetapi tetap akrab dalam kehidupan keluarga, kuil, sekolah, komunitas, dan budaya makanan.
Cara modern yang umum untuk memperingati Laba antara lain:
- Memasak bubur Laba di rumah dengan campuran biji-bijian, kacang-kacangan, aneka kacang, dan buah kering.
- Membeli bubur delapan harta, bubur campuran biji-bijian, atau bahan bubur Laba siap masak.
- Membuat bawang putih Laba di rumah tangga Tiongkok utara.
- Mengunjungi kuil yang membagikan bubur Laba.
- Mengajarkan kepada anak-anak tentang biji-bijian, hasil panen, dan makanan tradisional.
- Membagikan foto bubur Laba dan ucapan Tahun Baru di media sosial.
- Menggunakan hari ini sebagai pengingat bahwa Tahun Baru Imlek sudah mendekat.
Di sekolah dan taman kanak-kanak, guru dapat memperkenalkan biji-bijian dan bahan yang digunakan dalam bubur Laba. Anak-anak belajar bahwa semangkuk bubur dapat berisi beras, kacang-kacangan, kurma, kacang pohon, dan makanan hasil panen lainnya. Dengan demikian, Laba menjadi pelajaran sederhana tentang makanan, musim, dan tradisi.
Di toko dan supermarket, Laba sering hadir melalui bahan bubur, paket hadiah, bubur delapan harta, serta makanan musim dingin yang dipasarkan sebagai pilihan sehat. Bentuk komersialnya mungkin lebih sederhana, tetapi tetap membuat festival ini hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi banyak orang modern, Laba adalah perayaan yang sederhana namun tetap akrab. Meski tidak menjalankan ritual lengkap, orang tetap tahu bahwa hari ini cocok untuk menikmati semangkuk bubur hangat dan bahwa Tahun Baru sudah semakin dekat.
Cara Merayakan Festival Laba dengan Hormat
Laba mudah diikuti, tetapi penting untuk memahami bahwa ini bukan sekadar hari makan bubur. Festival ini membawa doa akhir tahun, ingatan Buddhis, penghormatan leluhur, asupan hangat musim dingin, dan persiapan Tahun Baru.
- Masak bubur Laba dengan campuran biji-bijian, kacang-kacangan, aneka kacang, dan buah kering.
- Jangan khawatir harus memakai tepat delapan bahan; keragaman dan kebersamaan lebih penting.
- Cobalah bawang putih Laba jika Anda ingin mengalami adat Tiongkok utara.
- Ingat bahwa bawang putih Laba mulai dibuat pada hari Laba dan dimakan menjelang Tahun Baru Imlek.
- Jika Anda mengunjungi acara pembagian bubur di kuil, ikuti aturan, tunggu dengan sabar, dan ucapkan terima kasih kepada orang yang melayani.
- Jangan menyederhanakan bubur Laba menjadi “oatmeal Tiongkok.”
- Gunakan hari ini untuk memikirkan kehangatan, kesehatan, rasa syukur, dan Tahun Baru yang semakin dekat.
- Kirim ucapan sederhana jika Anda memiliki teman atau keluarga Tionghoa.
Ucapan yang umum adalah “Selamat Festival Laba.” Dalam bahasa Tionghoa, Anda dapat mengatakan Laba Jie Kuai Le, ditulis 腊八节快乐. Ucapan yang lebih hangat dapat berbunyi: “Semoga Anda selalu hangat dan sehat menjelang Tahun Baru.”
Kaitan Panduan Ini dengan Konten Festival dan Shio Tiongkok
Festival Laba adalah salah satu festival musim dingin penting dalam kalender festival Tiongkok. Posisi Laba dekat dengan Tahun Baru Imlek karena menandai dimulainya persiapan Tahun Baru, meskipun bukan awal resmi Tahun Baru.
Untuk melihat kalender festival secara lengkap, mulailah dengan panduan Festival dan Hari Libur Tiongkok kami.
Laba dan Tahun Baru Imlek berkaitan erat. Laba adalah tanda jelas pertama bahwa musim Tahun Baru sudah mendekat; Tahun Baru Imlek adalah perayaan resminya. Untuk memahami festival yang dipersiapkan sejak Laba, baca panduan Tahun Baru Imlek kami.
Laba juga termasuk dalam siklus Festival Musim Semi yang lebih luas. Suasana Tahun Baru mulai terasa sekitar Laba, semakin kuat sepanjang bulan lunar terakhir, mencapai puncaknya pada Malam Tahun Baru dan Tahun Baru Imlek, lalu ditutup dengan bulan purnama pertama. Untuk mengikuti musim Tahun Baru hingga perayaan bulan purnama terakhirnya, baca panduan Festival Lampion kami.
Jika Anda datang dari konten shio, perlu diingat bahwa Laba biasanya berlangsung sebelum Tahun Baru Imlek, sehingga tidak seharusnya dianggap sebagai festival Shio Tiongkok. Tanggalnya sering masih termasuk tahun lunar sebelumnya, meskipun tahun Gregorian sudah berganti.
FAQ tentang Festival Laba
Kapan Festival Laba 2027?
Festival Laba 2027 jatuh pada Jumat, 15 Januari 2027. Festival ini berlangsung pada hari ke-8 bulan lunar ke-12. Karena mengikuti kalender lunar Tiongkok, tanggal Gregoriannya berubah setiap tahun.
Apa itu Festival Laba?
Festival Laba adalah festival tradisional Tiongkok pada hari ke-8 bulan lunar ke-12. Adat utamanya mencakup makan bubur Laba, membuat bawang putih Laba, penghormatan kepada leluhur, berdoa, pembagian bubur kuil, dan mempersiapkan Tahun Baru Imlek.
Mengapa orang makan bubur Laba?
Orang makan bubur Laba karena bubur ini membawa beberapa makna: persembahan akhir tahun, kehangatan musim dingin, rasa syukur atas panen, ingatan Buddhis, dan persiapan Tahun Baru. Bubur ini mengumpulkan biji-bijian, kacang-kacangan, aneka kacang, dan buah kering ke dalam satu panci hangat, melambangkan hasil panen yang disimpan dan kehangatan keluarga.
Apa saja isi bubur Laba?
Tidak ada resep baku. Bahan umum mencakup beras, beras ketan, millet, kacang merah, kacang hijau, kacang tanah, kenari, kastanye, kurma merah, lengkeng, kismis, goji berry, biji teratai, wijen, serta biji-bijian atau buah kering lainnya. Sebagian keluarga menggunakan delapan bahan; yang lain menggunakan lebih banyak.
Apakah Festival Laba merupakan awal Tahun Baru Imlek?
Festival Laba bukan awal resmi Tahun Baru Imlek. Namun, ungkapan rakyat “Setelah Laba, datanglah Tahun Baru” berarti persiapan Tahun Baru dimulai sekitar waktu ini. Sejak Laba, keluarga mulai mempersiapkan musim Festival Musim Semi.
Apa itu bawang putih Laba?
Bawang putih Laba adalah adat Tiongkok utara. Pada hari Laba, siung bawang putih yang sudah dikupas direndam dalam cuka dan dibiarkan hingga Tahun Baru Imlek. Siungnya berubah menjadi hijau terang lalu dimakan bersama pangsit selama masa Tahun Baru.
Apakah Festival Laba merupakan festival Buddhis?
Festival Laba memiliki lapisan Buddhis, tetapi tidak hanya bersifat Buddhis. Festival ini berkaitan dengan pencerahan Buddha Shakyamuni dan pembagian bubur di kuil. Laba juga memiliki makna rakyat, termasuk persembahan akhir tahun, mengenang leluhur, makanan musim dingin, dan persiapan Tahun Baru.
Apakah Festival Laba merupakan hari libur nasional di Tiongkok?
Tidak. Festival Laba bukan hari libur nasional di Tiongkok Daratan. Orang biasanya tetap bekerja atau belajar seperti biasa. Namun, keluarga, kuil, sekolah, komunitas, dan bisnis makanan tetap dapat memperingatinya.
Bagaimana mengucapkan Selamat Festival Laba dalam bahasa Tionghoa?
Anda dapat mengatakan “Laba Jie Kuai Le,” ditulis 腊八节快乐. Artinya “Selamat Festival Laba.” Ucapan yang lebih hangat adalah: “Semoga Anda selalu hangat dan sehat menjelang Tahun Baru.”
Apa arti “Setelah Laba, datanglah Tahun Baru”?
“Setelah Laba, datanglah Tahun Baru” berarti bahwa ketika Festival Laba tiba, Tahun Baru Imlek sudah dekat. Ungkapan ini bukan berarti Tahun Baru secara resmi telah dimulai. Maksudnya, keluarga mulai menyiapkan makanan, membersihkan rumah, membeli kebutuhan Tahun Baru, menata persembahan, dan menantikan musim reuni.